Di Balik Isu PETI, Polisi Berada Persimpangan Dilema dan Penegakan Hukum
- account_circle Sugianto
- calendar_month Sel, 21 Apr 2026

Kuantan Singingi,SAIBEENEWS.COM || 20 April 2026, Pemberitaan tentang Pertambangan Emas Tampa Izin (PETI) kerap mengaitkan polisi dengan tudingan “membekap”. Tidak bisa dipungkiri, dugaan ada beberapa oknum anggota yang memang terbukti terlibat dan sudah ditindak.
Namun di sisi lain, banyak anggota polisi yang justru berada dalam posisi dilematis. Mereka bertugas di wilayahnya, sebagian besar warganya menggantungkan hidup pada PETI.
Bagi masyarakat, PETI bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan sumber penghidupan untuk menyekolahkan anak dan memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah minimnya ekonomi dan lapangan kerja.
Polisi yang memahami kondisi ini sering memilih pendekatan persuasif, mengimbau warga agar berhenti, sambil menunggu solusi terkait perizinan dan solusi dari pemerintah.
Sayangnya, ketika pemberitaan muncul, polisi yang paling cepat disorot. Akibatnya, tidak sedikit perwira yang digeser, diberikan sangsi disiplin dan serta pindah dari jabatan.
Kondisi ini membuat aparat merasa menjadi korban framing, padahal mereka sedang berusaha menjaga kondusivitas sosial sambil menunggu kebijakan yang lebih komprehensif.
Dalam situasi seperti ini, polisi berada di posisi dilematis antara menjalankan hukum dan memahami kondisi sosial warganya.
Karena itu, pengawasan terhadap anggota tetap diperlukan agar penegakan hukum berjalan, namun di saat bersamaan pemerintah juga harus menyediakan alternatif mata pencaharian, solusi bagi warga.
Dengan begitu, polisi tidak lagi terjepit di antara kewajiban hukum dan realita kehidupan masyarakat.
Narasi ini sekedar sudut pandang, versi ini tidak memihak 100%, mengakui ada oknum, tapi menyoroti tekanan sosial yang dihadapi polisi.***
- Penulis: Sugianto
- Editor: Siburian








Saat ini belum ada komentar