Dari Puisi ke Panggung Lenong, Yenni Satriani Curi Perhatian di Dialog Seni ASEAN
- account_circle Sukesih
- calendar_month Jum, 18 Sep 2026

DUMAI, SAIBERNEWS.COM – Dunia sastra dan seni pertunjukan menjadi ruang baru bagi Yenni Satriani untuk menunjukkan kiprahnya. Penulis sekaligus pembaca puisi asal Riau itu tampil dalam lenong kontemporer Mak Comblang pada rangkaian Dialog Seni dan Budaya se-ASEAN di Pantai Tantrayana, Kota Dumai, Riau.
Yenni memerankan tokoh Siti, seorang asisten rumah tangga dengan karakter jenaka, ekspresif, dan gemar bermusik. Meski seni peran bukan bidang yang selama ini menjadi fokus utamanya, Yenni mampu membawakan karakter tersebut di hadapan penonton.
Sejumlah adegan yang diperankannya dengan dialog bernuansa komedi serta gerakan yang ekspresif mendapat respons penonton. Suasana pertunjukan pun diwarnai tawa dan tepuk tangan.
Penampilan tersebut menjadi pengalaman baru bagi Yenni yang selama ini lebih dikenal melalui karya-karya puisinya. Ia tampil bersama sejumlah seniman dan artis yang memiliki pengalaman di dunia seni pertunjukan dan perfilman Indonesia.

Lenong kontemporer Mak Comblang tersebut disutradarai Bedjo Soelaktono dari Jakarta, dengan Umar Tajuddin sebagai asisten sutradara.
“Ibu Sakai” Beralih Menjadi Siti
Di lingkungan pegiat sastra, Yenni Satriani juga dikenal dengan sapaan “Ibu Sakai”. Julukan itu berawal dari puisinya berjudul Panggil Aku Ibu Sakai yang pernah dibacakannya dalam sebuah kegiatan puisi di Bintan, Kepulauan Riau.
Nama “Ibu Sakai” kemudian semakin dikenal setelah Yenni kembali membawakan puisi tersebut dalam kegiatan Wisata Puisi 3M—Mesir, Madinah, dan Makkah—pada 2024.
Namun, di panggung Mak Comblang, sosok “Ibu Sakai” seolah berganti karakter menjadi Siti.

Bagi Yenni, perubahan karakter tersebut bukan persoalan. Justru, kesempatan bermain lenong menjadi pengalaman berharga untuk mempelajari seni peran secara langsung dari para seniman yang lebih berpengalaman.
Perjalanan Panjang di Dunia Sastra
Yenni merupakan penulis dan pembaca puisi yang aktif mengikuti berbagai kegiatan sastra. Kiprahnya semakin berkembang setelah bergabung dengan Perkumpulan Rumah Seni Asnur (PERRUAS) yang dipimpin penyair Asrizal Nur.
Selain puisi, Yenni juga menekuni pantun, gurindam, syair, pantun majelis, dan talibun.
Di bidang pendidikan, Yenni pernah memperoleh penghargaan sebagai kepala sekolah berprestasi bidang seni dari PERRUAS pada 2022. Pada 2024, ia juga memperoleh predikat kepala sekolah berprestasi bidang akademik.
Kecintaannya terhadap seni turut diwujudkan melalui penciptaan lagu mars SMPN 8 Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, berjudul Teruslah Melangit Tinggi.
Aktivitas kepenyairannya juga membawanya mengikuti berbagai kegiatan sastra hingga ke sejumlah kota di Turki, termasuk Cappadocia, Ankara, Bursa, dan Istanbul. Pengalaman tersebut kemudian dituangkannya dalam buku puisi tunggal berjudul Puisi Membawa Sampai Jauh.

Ruang Pertemuan Seniman ASEAN
Kehadiran Yenni dalam Dialog Seni dan Budaya se-ASEAN di Dumai tidak terlepas dari peran Tantri Subekti yang menginisiasi kegiatan tersebut.
Kegiatan yang berlangsung 11–13 September 2026 itu menjadi ruang pertemuan bagi seniman, pemerhati, dan pegiat seni budaya dari sejumlah negara.
Perwakilan dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand hadir dalam kegiatan tersebut.
Yenni yang saat ini dipercaya sebagai pimpinan PERRUAS Riau mengatakan, keterlibatannya dalam kegiatan tersebut menjadi pengalaman penting dalam perjalanan berkesenian.
Ia juga masih aktif dalam berbagai kegiatan kepenulisan bersama anggota PERRUAS dari Indonesia dan negara-negara ASEAN.
Salah satu agenda yang tengah dikembangkan adalah penulisan pantun majelis dan talibun yang melibatkan peserta dari kawasan ASEAN. Kegiatan tersebut direncanakan diluncurkan pada Desember 2026.
“Kesempatan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Terima kasih kepada sahabat saya, Tantri Subekti, yang telah memberikan ruang untuk terus berkarya,” ujar Yenni.
Bagi Yenni, panggung lenong di Dumai bukan sekadar kesempatan untuk mencoba seni peran. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan kreatif seorang penyair yang terus memperluas ruang berkesenian, dari halaman puisi hingga panggung pertunjukan.***
- Penulis: Sukesih








Saat ini belum ada komentar