Lewat Dua Puisi, Era Nurza Suarakan Perlawanan terhadap Pencemaran Udara dan Kerusakan Lingkungan
- account_circle SUKESIH
- calendar_month 5 jam yang lalu

PADANG — Penyair sekaligus pendidik, Edrawati, M.Pd., yang dikenal dengan nama pena Era Nurza, menyuarakan kepedulian terhadap pencemaran udara dan kerusakan lingkungan melalui dua karya puisinya berjudul “Langit Terkepung, Kami Tak Akan Tunduk” dan “Langit Kami Dicuri Asap”. Kedua puisi tersebut menghadirkan refleksi tentang ancaman polusi udara terhadap kehidupan manusia, kelestarian alam, serta keberlangsungan pendidikan generasi muda.
Melalui diksi yang kuat dan metafora yang menggugah, Era Nurza mengajak pembaca melihat persoalan lingkungan bukan sekadar masalah alam, melainkan juga persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian dan tanggung jawab bersama.
Dalam puisi “Langit Terkepung, Kami Tak Akan Tunduk” yang ditulis di Padang pada Oktober 2026, Era Nurza menggambarkan langit yang tertutup jelaga, pepohonan yang kehilangan kehijauannya, serta asap yang mengancam kehidupan masyarakat. Puisi ini menyampaikan kritik terhadap keserakahan dan tindakan manusia yang berpotensi merusak keseimbangan lingkungan.
Penyair juga menyoroti dampak pencemaran udara terhadap anak-anak sebagai kelompok yang rentan. Gambaran tentang anak-anak yang harus menghirup udara tercemar menjadi simbol keprihatinan atas hak setiap generasi untuk hidup dalam lingkungan yang sehat dan aman.
Pesan perlawanan menjadi salah satu kekuatan utama puisi tersebut. Melalui ungkapan tentang keberanian menjaga masa depan, Era Nurza menegaskan bahwa masyarakat tidak seharusnya diam menghadapi kerusakan lingkungan. Kesadaran, kepedulian, dan tindakan nyata diperlukan agar alam tetap menjadi ruang kehidupan yang layak bagi generasi sekarang maupun mendatang.
Sementara itu, puisi kedua berjudul “Langit Kami Dicuri Asap”, yang ditulis pada 16 Oktober 2026 di Padang, menghadirkan gambaran lebih dekat mengenai dampak pencemaran udara terhadap kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan sekolah.
Dalam puisi tersebut, asap digambarkan menyelimuti rumah, ruang kelas, dan aktivitas masyarakat. Suasana pagi yang semestinya membawa kesegaran justru berubah menjadi kelabu. Kondisi itu menjadi latar bagi kegelisahan tentang udara bersih yang semakin sulit dinikmati.
Perhatian khusus diberikan kepada dunia pendidikan. Ruang kelas yang tertutup, anak-anak yang mengalami ketidaknyamanan, serta aktivitas belajar yang terganggu menjadi gambaran tentang bagaimana persoalan lingkungan dapat memengaruhi proses pendidikan.
Bagi seorang pendidik seperti Era Nurza, gambaran tersebut menghadirkan pesan penting bahwa lingkungan yang sehat merupakan salah satu unsur pendukung tumbuh kembang dan proses belajar anak. Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan tempat peserta didik menjalani kehidupan sehari-hari.
Melalui seruan “Kembalikan biru itu”, penyair menyampaikan harapan agar udara bersih dan kehidupan yang lebih aman dapat kembali dinikmati masyarakat. Seruan tersebut sekaligus mengajak pembaca untuk meningkatkan kepedulian terhadap pencegahan kebakaran, pengendalian pencemaran, serta pelestarian lingkungan.
Kedua puisi ini memiliki pendekatan yang saling melengkapi. “Langit Terkepung, Kami Tak Akan Tunduk” menonjolkan keberanian dan tanggung jawab kolektif dalam menghadapi kerusakan lingkungan, sedangkan “Langit Kami Dicuri Asap” menekankan dampak pencemaran terhadap kehidupan sehari-hari dan kegiatan belajar anak-anak.
Meski disampaikan melalui bahasa sastra, pesan yang dibangun dalam kedua karya tersebut berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Puisi menjadi ruang bagi penyair untuk menyampaikan kegelisahan, membangun kesadaran, dan mengajak publik memandang persoalan lingkungan dengan lebih kritis.
Kedua karya itu juga mengingatkan bahwa pembangunan dan kemajuan perlu berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Udara bersih, pepohonan yang terjaga, dan ruang hidup yang sehat merupakan bagian penting dari kualitas kehidupan manusia.
Melalui karya-karyanya, Era Nurza berharap kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kata-kata, tetapi berkembang menjadi kesadaran dan tindakan nyata. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan kepentingan bersama demi masa depan generasi berikutnya.
Biografi Penulis
Edrawati, M.Pd., dikenal dengan nama pena Era Nurza, merupakan seorang guru yang menempatkan pendidikan sebagai proses membentuk karakter, menumbuhkan kreativitas, dan menyalakan semangat belajar peserta didik.
Dalam menjalankan perannya sebagai pendidik, ia meyakini bahwa kegiatan belajar tidak sebatas penyampaian materi di ruang kelas. Pendidikan juga menjadi sarana untuk membangun keberanian berpikir, mengembangkan potensi, serta mendorong peserta didik mengekspresikan gagasan melalui tulisan yang bermakna.
Kecintaannya terhadap dunia literasi diwujudkan melalui kegiatan menulis dan pendampingan terhadap murid agar berani berkarya. Baginya, menulis merupakan salah satu cara untuk mengembangkan daya pikir, menyampaikan gagasan, dan menumbuhkan kepekaan terhadap berbagai persoalan di lingkungan sekitar.
Dalam perjalanan kepenulisannya, Era Nurza telah melahirkan enam buku tunggal serta berkontribusi dalam lebih dari 50 buku antologi fiksi dan nonfiksi. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari kiprahnya dalam mengembangkan budaya literasi dan memperluas ruang berekspresi melalui tulisan.
Ia juga aktif dalam berbagai komunitas literasi tingkat nasional. Kiprahnya berkembang melalui kolaborasi bersama komunitas literasi dari Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Australia, Turki, dan Jepang.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upayanya membangun jejaring, memperluas pertukaran gagasan, serta mendorong semangat literasi melampaui batas wilayah dan negara.
Melalui puisi, tulisan, dan aktivitas pendidikan, Era Nurza terus mengembangkan keyakinannya bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga dengan pembentukan karakter, kepedulian sosial, serta keberanian menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan dan kelestarian lingkungan.
Dua puisinya, “Langit Terkepung, Kami Tak Akan Tunduk” dan “Langit Kami Dicuri Asap”, menjadi bagian dari ekspresi kepedulian tersebut. Melalui bahasa sastra, ia mengajak pembaca untuk merenungkan hubungan manusia dengan alam sekaligus menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan bagi generasi mendatang.
PUISI
Langit Terkepung, Kami Tak Akan Tunduk
Era Nurza
Di leher langit, jelaga mengikat simpul
matahari tersungkur di balik tirai kelam
daun-daun menggigil
burung kehilangan kompas
bumi menelan racun dari keserakahan manusia
Siapa memberi api mahkota kekuasaan?
Siapa mengubah rimba menjadi abu penyesalan?
Asap menjelma algojo tanpa wajah
mencekik kota, merampas hak jutaan napas
Anak-anak menadah udara beracun
paru-paru mungil menyimpan jerit tak terdengar sementara para pemburu untung menghitung laba
tanpa membaca ratapan di wajah semesta
Cukup! Jangan sulap bencana menjadi berita biasa
jangan biarkan nurani terkubur bersama pepohonan
sebab setiap kepulan membawa gugatan atas tangan serakah pemerkosa kehidupan
Kami bukan kawanan bisu di bawah langit muram
kami suara badai penentang kehancuran
kami bara keberanian penjaga masa depan
kami berdiri, menolak tunduk pada asap!
Kelak, saat hijau kembali menjahit luka
saat sungai mencuci debu dari wajah bumi biarlah sejarah mencatat sumpah kami:
tak ada kemajuan pantas dirayakan bila udara harus dibayar dengan kematian
PUISI II
Langit Kami Dicuri Asap
Era Nurza
Pagi datang membawa selimut kelabu
Bukan embun, bukan kabut sawah
Ini racun, ini hantu tanpa pintu
Menyusup ke rumah, ke dada, ke sekolah
Dari mana bara ini menyala
Tak ada jawaban, hanya pekat
Langit biru kini jadi cerita
Tersisa perih, sesak, penat
Paru-paru kota mengerang pelan
Setiap helaan jadi taruhan
Batuk bersahutan sepanjang malam
Nafas pendek, hidup tertekan
Lihatlah jendela kelas tertutup rapat
Papan tulis sepi tanpa suara
Anak-anak menatap langit berkarat
Tawa hilang, ilmu pun hampa
Buku terbuka, mata pedih menatap
Kapur tak lagi menari lincah
Guru berbisik lewat masker pengap
Sementara asap makin merajalela, memuncak
Luar rumah bukan lagi ruang bebas
Taman sepi, lapangan terkunci debu
Sepeda terparkir, bola tak lepas
Semua tunduk pada kabut semu
Kembalikan biru itu
Kembalikan tawa jernih itu
Padamkan api liar itu
Sebelum nafas terakhir jadi debu,
- Penulis: SUKESIH
- Sumber: Edrawati, M.Pd









Saat ini belum ada komentar