Umar Tadjuddin: Pariwisata dan Kebudayaan Harus Sejalan dengan Pendidikan
- account_circle SUKESIH
- calendar_month Kam, 10 Sep 2026

DUMAI,SAIBERNEWS.COM — Pemajuan pariwisata berbasis kebudayaan dinilai perlu berjalan beriringan dengan pendidikan. Kolaborasi tersebut diyakini menjadi salah satu kunci untuk membangun generasi muda yang memiliki karakter, kreativitas, sekaligus pemahaman terhadap jati diri dan kekayaan budaya bangsa.
Pandangan itu disampaikan sastrawan dan pegiat kebudayaan Umar Tadjuddin, Ketua Umum Komunitas Belantara Sastra, Seni, Budaya dan Kreasi. Kiprahnya dalam menggerakkan kegiatan sastra dan seni, khususnya yang menyasar generasi muda dan pelajar, membuat gagasannya mengenai keterkaitan pendidikan dan kebudayaan mendapat perhatian di berbagai kalangan.
Umar menilai kebudayaan tidak semestinya ditempatkan hanya sebagai peninggalan masa lalu. Kebudayaan, menurut dia, harus menjadi bagian dari proses pendidikan sekaligus ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas dan membangun karakter.
“Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan pikiran. Pendidikan juga harus membangun karakter dan mengenalkan anak-anak kepada akar budayanya. Dari sanalah tumbuh rasa memiliki terhadap bangsa dan lingkungan sosialnya,” ujar Umar dalam pandangannya mengenai hubungan pendidikan dan kebudayaan.
Menurut dia, sekolah memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan sekaligus mengembangkan kebudayaan. Karena itu, sekolah, komunitas seni, lembaga kebudayaan, guru, seniman, dan masyarakat perlu membangun ekosistem yang memungkinkan pelajar tidak hanya menjadi penikmat seni, tetapi juga terlibat sebagai pelaku dan pencipta.
Sastra, lanjut Umar, dapat menjadi salah satu media penting dalam proses tersebut. Kegiatan membaca dan menulis puisi, diskusi sastra, teater, literasi, serta pengenalan tradisi lokal dapat membantu meningkatkan kepekaan sosial, daya kritis, imajinasi, dan kreativitas peserta didik.
Gagasan tersebut sejalan dengan semangat pemajuan kebudayaan yang telah memiliki landasan melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Regulasi tersebut menempatkan pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan sebagai bagian dari upaya pemajuan kebudayaan nasional.
Dalam konteks pengembangan pariwisata, Umar berpandangan bahwa kekayaan budaya juga dapat menjadi daya tarik yang memperkuat karakter suatu daerah. Namun, pengembangan tersebut menurutnya perlu dilakukan dengan tetap menjaga nilai, identitas, dan keberlanjutan budaya masyarakat.
“Generasi muda harus mampu mengenal budayanya tanpa kehilangan kemampuan untuk mengikuti perkembangan zaman. Sastra dan pendidikan dapat menjadi jembatan antara tradisi, kreativitas, teknologi, dan masa depan,” katanya.
Dorong Literasi dan Seniman Masuk Sekolah
Komunitas Belantara Sastra, Seni, Budaya dan Kreasi yang dipimpin Umar selama ini mengembangkan berbagai kegiatan yang melibatkan generasi muda dan pelajar. Salah satu gagasan yang didorong adalah memperluas ruang pertemuan antara seniman dengan dunia pendidikan melalui kegiatan seniman masuk sekolah.
Menurut Umar, kehadiran seniman di lingkungan sekolah dapat memberikan pengalaman langsung kepada pelajar mengenai proses kreatif. Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga dapat berinteraksi dengan pelaku seni dan memahami bahwa karya sastra serta seni lahir dari proses pengamatan, kreativitas, disiplin, dan kepekaan terhadap lingkungan.
Ia juga menilai semangat “Bekasi Kota Literasi” dapat menjadi bagian dari gerakan untuk meningkatkan budaya membaca dan menulis sekaligus memperkuat apresiasi terhadap sastra dan kebudayaan.
“Yang kita bangun bukan sekadar kegiatan seni. Yang lebih penting adalah membangun manusia yang memiliki kemampuan berpikir, kreativitas, karakter, dan kesadaran terhadap budayanya,” ujar Umar.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, seniman, budayawan, dan masyarakat dapat terus diperkuat. Dengan demikian, pemajuan kebudayaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan yang berkelanjutan dan memberikan ruang nyata bagi generasi muda.
Bagi Umar, pembangunan kebudayaan pada akhirnya merupakan bagian dari pembangunan manusia. Pendidikan menyiapkan generasi penerus, sementara kebudayaan memberikan akar nilai dan identitas agar generasi tersebut mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
“Membangun kebudayaan berarti membangun manusia. Membangun pendidikan berarti menyiapkan manusia yang mampu menjaga, mengembangkan, dan menciptakan kebudayaan untuk masa depan,” pungkasnya.***
- Penulis: SUKESIH








Saat ini belum ada komentar