Breaking News
light_mode
Trending Tags

Lewat Dua Puisi, Era Nurza Suarakan Perlawanan terhadap Pencemaran Udara dan Kerusakan Lingkungan

  • account_circle SUKESIH
  • calendar_month 6 jam yang lalu

PADANG — Penyair sekaligus pendidik, Edrawati, M.Pd., yang dikenal dengan nama pena Era Nurza, menyuarakan kepedulian terhadap pencemaran udara dan kerusakan lingkungan melalui dua karya puisinya berjudul “Langit Terkepung, Kami Tak Akan Tunduk” dan “Langit Kami Dicuri Asap”. Kedua puisi tersebut menghadirkan refleksi tentang ancaman polusi udara terhadap kehidupan manusia, kelestarian alam, serta keberlangsungan pendidikan generasi muda.

Melalui diksi yang kuat dan metafora yang menggugah, Era Nurza mengajak pembaca melihat persoalan lingkungan bukan sekadar masalah alam, melainkan juga persoalan kemanusiaan yang membutuhkan perhatian dan tanggung jawab bersama.

Dalam puisi “Langit Terkepung, Kami Tak Akan Tunduk” yang ditulis di Padang pada Oktober 2026, Era Nurza menggambarkan langit yang tertutup jelaga, pepohonan yang kehilangan kehijauannya, serta asap yang mengancam kehidupan masyarakat. Puisi ini menyampaikan kritik terhadap keserakahan dan tindakan manusia yang berpotensi merusak keseimbangan lingkungan.

Penyair juga menyoroti dampak pencemaran udara terhadap anak-anak sebagai kelompok yang rentan. Gambaran tentang anak-anak yang harus menghirup udara tercemar menjadi simbol keprihatinan atas hak setiap generasi untuk hidup dalam lingkungan yang sehat dan aman.

Pesan perlawanan menjadi salah satu kekuatan utama puisi tersebut. Melalui ungkapan tentang keberanian menjaga masa depan, Era Nurza menegaskan bahwa masyarakat tidak seharusnya diam menghadapi kerusakan lingkungan. Kesadaran, kepedulian, dan tindakan nyata diperlukan agar alam tetap menjadi ruang kehidupan yang layak bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Sementara itu, puisi kedua berjudul “Langit Kami Dicuri Asap”, yang ditulis pada 16 Oktober 2026 di Padang, menghadirkan gambaran lebih dekat mengenai dampak pencemaran udara terhadap kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan sekolah.

Dalam puisi tersebut, asap digambarkan menyelimuti rumah, ruang kelas, dan aktivitas masyarakat. Suasana pagi yang semestinya membawa kesegaran justru berubah menjadi kelabu. Kondisi itu menjadi latar bagi kegelisahan tentang udara bersih yang semakin sulit dinikmati.

Perhatian khusus diberikan kepada dunia pendidikan. Ruang kelas yang tertutup, anak-anak yang mengalami ketidaknyamanan, serta aktivitas belajar yang terganggu menjadi gambaran tentang bagaimana persoalan lingkungan dapat memengaruhi proses pendidikan.

Bagi seorang pendidik seperti Era Nurza, gambaran tersebut menghadirkan pesan penting bahwa lingkungan yang sehat merupakan salah satu unsur pendukung tumbuh kembang dan proses belajar anak. Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan tempat peserta didik menjalani kehidupan sehari-hari.

Melalui seruan “Kembalikan biru itu”, penyair menyampaikan harapan agar udara bersih dan kehidupan yang lebih aman dapat kembali dinikmati masyarakat. Seruan tersebut sekaligus mengajak pembaca untuk meningkatkan kepedulian terhadap pencegahan kebakaran, pengendalian pencemaran, serta pelestarian lingkungan.

Kedua puisi ini memiliki pendekatan yang saling melengkapi. “Langit Terkepung, Kami Tak Akan Tunduk” menonjolkan keberanian dan tanggung jawab kolektif dalam menghadapi kerusakan lingkungan, sedangkan “Langit Kami Dicuri Asap” menekankan dampak pencemaran terhadap kehidupan sehari-hari dan kegiatan belajar anak-anak.

Meski disampaikan melalui bahasa sastra, pesan yang dibangun dalam kedua karya tersebut berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Puisi menjadi ruang bagi penyair untuk menyampaikan kegelisahan, membangun kesadaran, dan mengajak publik memandang persoalan lingkungan dengan lebih kritis.

Kedua karya itu juga mengingatkan bahwa pembangunan dan kemajuan perlu berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Udara bersih, pepohonan yang terjaga, dan ruang hidup yang sehat merupakan bagian penting dari kualitas kehidupan manusia.

Melalui karya-karyanya, Era Nurza berharap kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kata-kata, tetapi berkembang menjadi kesadaran dan tindakan nyata. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan kepentingan bersama demi masa depan generasi berikutnya.

Biografi Penulis

Edrawati, M.Pd., dikenal dengan nama pena Era Nurza, merupakan seorang guru yang menempatkan pendidikan sebagai proses membentuk karakter, menumbuhkan kreativitas, dan menyalakan semangat belajar peserta didik.

Dalam menjalankan perannya sebagai pendidik, ia meyakini bahwa kegiatan belajar tidak sebatas penyampaian materi di ruang kelas. Pendidikan juga menjadi sarana untuk membangun keberanian berpikir, mengembangkan potensi, serta mendorong peserta didik mengekspresikan gagasan melalui tulisan yang bermakna.

Kecintaannya terhadap dunia literasi diwujudkan melalui kegiatan menulis dan pendampingan terhadap murid agar berani berkarya. Baginya, menulis merupakan salah satu cara untuk mengembangkan daya pikir, menyampaikan gagasan, dan menumbuhkan kepekaan terhadap berbagai persoalan di lingkungan sekitar.

Dalam perjalanan kepenulisannya, Era Nurza telah melahirkan enam buku tunggal serta berkontribusi dalam lebih dari 50 buku antologi fiksi dan nonfiksi. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari kiprahnya dalam mengembangkan budaya literasi dan memperluas ruang berekspresi melalui tulisan.

Ia juga aktif dalam berbagai komunitas literasi tingkat nasional. Kiprahnya berkembang melalui kolaborasi bersama komunitas literasi dari Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Australia, Turki, dan Jepang.

Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upayanya membangun jejaring, memperluas pertukaran gagasan, serta mendorong semangat literasi melampaui batas wilayah dan negara.

Melalui puisi, tulisan, dan aktivitas pendidikan, Era Nurza terus mengembangkan keyakinannya bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga dengan pembentukan karakter, kepedulian sosial, serta keberanian menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan dan kelestarian lingkungan.

Dua puisinya, “Langit Terkepung, Kami Tak Akan Tunduk” dan “Langit Kami Dicuri Asap”, menjadi bagian dari ekspresi kepedulian tersebut. Melalui bahasa sastra, ia mengajak pembaca untuk merenungkan hubungan manusia dengan alam sekaligus menumbuhkan tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan bagi generasi mendatang.

PUISI 

Langit Terkepung, Kami Tak Akan Tunduk
Era Nurza

Di leher langit, jelaga mengikat simpul
matahari tersungkur di balik tirai kelam
daun-daun menggigil
burung kehilangan kompas
bumi menelan racun dari keserakahan manusia

Siapa memberi api mahkota kekuasaan?
Siapa mengubah rimba menjadi abu penyesalan?
Asap menjelma algojo tanpa wajah
mencekik kota, merampas hak jutaan napas

Anak-anak menadah udara beracun
paru-paru mungil menyimpan jerit tak terdengar sementara para pemburu untung menghitung laba
tanpa membaca ratapan di wajah semesta

Cukup! Jangan sulap bencana menjadi berita biasa
jangan biarkan nurani terkubur bersama pepohonan
sebab setiap kepulan membawa gugatan atas tangan serakah pemerkosa kehidupan

Kami bukan kawanan bisu di bawah langit muram
kami suara badai penentang kehancuran
kami bara keberanian penjaga masa depan
kami berdiri, menolak tunduk pada asap!

Kelak, saat hijau kembali menjahit luka
saat sungai mencuci debu dari wajah bumi biarlah sejarah mencatat sumpah kami:
tak ada kemajuan pantas dirayakan bila udara harus dibayar dengan kematian

PUISI II

Langit Kami Dicuri Asap
Era Nurza

Pagi datang membawa selimut kelabu
Bukan embun, bukan kabut sawah
Ini racun, ini hantu tanpa pintu
Menyusup ke rumah, ke dada, ke sekolah
Dari mana bara ini menyala
Tak ada jawaban, hanya pekat
Langit biru kini jadi cerita
Tersisa perih, sesak, penat

Paru-paru kota mengerang pelan
Setiap helaan jadi taruhan
Batuk bersahutan sepanjang malam
Nafas pendek, hidup tertekan
Lihatlah jendela kelas tertutup rapat
Papan tulis sepi tanpa suara
Anak-anak menatap langit berkarat
Tawa hilang, ilmu pun hampa

Buku terbuka, mata pedih menatap
Kapur tak lagi menari lincah
Guru berbisik lewat masker pengap
Sementara asap makin merajalela, memuncak
Luar rumah bukan lagi ruang bebas
Taman sepi, lapangan terkunci debu
Sepeda terparkir, bola tak lepas
Semua tunduk pada kabut semu

Kembalikan biru itu
Kembalikan tawa jernih itu
Padamkan api liar itu
Sebelum nafas terakhir jadi debu,

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ahmad Jaini Alami Dugaan Tindak Penganiayaan Dengan Kekerasan

    Ahmad Jaini Alami Dugaan Tindak Penganiayaan Dengan Kekerasan

    • calendar_month Sab, 28 Mar 2026
    • account_circle Tim
    • visibility 295
    • 0Komentar

    Pasaman, Saibernews-–Peristiwa naas dialami Ahmad Jaini (34 tahun) seorang pedagang kaki lima yang berasal dari simpang kalam Nagari cubadak tengah, Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman. Ia diduga menjadi korban pengeroyokan lebih dari satu orang yang terjadi di Pasar Panti pada tanggal 19 Maret 2026. Menurut keterangan Ahmad Jaini kepada media ini, peristiwa penganiayaan bermula ketika […]

  • CERITA  DI BALIK LAYAR  TANTRI SUBEKTI  DALAM GELAR ACARA PELANTIKAN PW/kB.PII &SEMINAR NASIONAL  DI GEDUNG MEDIUM DPRD RIAU

    CERITA DI BALIK LAYAR TANTRI SUBEKTI DALAM GELAR ACARA PELANTIKAN PW/kB.PII &SEMINAR NASIONAL DI GEDUNG MEDIUM DPRD RIAU

    • calendar_month Rab, 26 Agu 2026
    • account_circle Sukesih
    • visibility 82
    • 0Komentar

    PEKANBARU,SAIBERNEWS.COM  – Pelantikan Pengurus Wilayah Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PW KBPII) Riau periode 2026–2030 di Ruang Medium DPRD Provinsi Riau, Minggu (23/8/2026), berlangsung khidmat. Namun, di antara rangkaian agenda resmi tersebut, penampilan spontan Tantri Subekti menjadi salah satu momen yang mencuri perhatian peserta. Di tengah suasana kegiatan yang dihadiri sejumlah pejabat, akademisi, tokoh masyarakat, […]

  • Pengabdian Kepada Rakyat,Pasis Dikreg LXVIII Seskoad Berikan Penyuluhan Pencegahan Karhutla kepada Poktan 

    Pengabdian Kepada Rakyat,Pasis Dikreg LXVIII Seskoad Berikan Penyuluhan Pencegahan Karhutla kepada Poktan 

    • calendar_month Jum, 4 Sep 2026
    • account_circle Sib
    • visibility 23
    • 0Komentar

    PEKANBARU,SAIBERNEWS.COM|Sebagai bagian dari komitmen pengabdian kepada masyarakat dan upaya menjaga stabilitas ketahanan wilayah, Perwira Siswa Pendidikan Reguler (Pasis Dikreg) LXVIII Seskoad Tahun 2026 menyelenggarakan kegiatan penyuluhan pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Edukasi ini ditujukan secara khusus kepada para anggota kelompok tani di Kelurahan Air Dingin, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru, pada Jumat (4/9/2026).   […]

  • Berantas Premanisme Jalanan, Polsek Medan Labuhan Ringkus Pelaku Pungli Berkedok Pengatur Lalu Lintas

    Berantas Premanisme Jalanan, Polsek Medan Labuhan Ringkus Pelaku Pungli Berkedok Pengatur Lalu Lintas

    • calendar_month Kam, 16 Jul 2026
    • account_circle SIB
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Medan Labuhan,SAIBERNEWS.COM  – Komitmen Polsek Medan Labuhan dalam memberantas aksi premanisme dan pungutan liar (pungli) kembali dibuktikan. Seorang pria yang diduga melakukan pungli dengan modus mengatur arus lalu lintas berhasil diamankan saat beraksi di Jalan KL Yos Sudarso, Rabu (15/7/2026) sore. Pelaku berinisial AS (39) diamankan personel Polsek Medan Labuhan setelah diduga meminta sejumlah uang […]

  • Diduga Tak Sesuai Standar BGN, Bangunan Calon Dapur MBG SPPG Rawang Oguang ID 87FP3Y di Kuantan Hilir Seberang Disorot

    Diduga Tak Sesuai Standar BGN, Bangunan Calon Dapur MBG SPPG Rawang Oguang ID 87FP3Y di Kuantan Hilir Seberang Disorot

    • calendar_month Ming, 18 Okt 2026
    • account_circle Sugianto
    • visibility 46
    • 0Komentar

    KUANTAN HILIR SEBERANG, KUANSING,- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program prioritas nasional diduga ternodai dengan adanya bangunan calon Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kondisinya memprihatinkan di Kabupaten Kuantan Singingi. Berdasarkan hasil investigasi lapangan yang dilakukan pada Sabtu, 18 Oktober 2026 sekitar pukul 16:00 WIB, di Jl. Jend. Sudirman, Kec. Kuantan Hilir Seberang, […]

  • Komplotan Geng Motor “Botak”  Dikandangkan Polek Medan LABUHAN

    Komplotan Geng Motor “Botak”  Dikandangkan Polek Medan LABUHAN

    • calendar_month Sen, 23 Feb 2026
    • account_circle SIB
    • visibility 115
    • 0Komentar

    MEDAN LABUHAN  – Personel Unit Reskrim Polsek Medan Labuhan berhasil mengungkap kasus tindak pidana pencurian dengan kekerasan (curas) yang meresahkan warga. Seorang tersangka utama berinisial MHD Dani alias Botak (17) beserta komplotannya berhasil diamankan petugas berikut barang bukti satu unit sepeda motor hasil kejahatan.   Kronologi Kejadian Peristiwa pembegalan ini terjadi pada Rabu, 21 Januari […]

expand_less Back to top