Di Balik Lubang Dompeng: Cerita Perut Kosong Warga Kuansing
- account_circle Sugianto
- calendar_month Kam, 16 Apr 2026

Kuantan Singingi,SAIBERNEWS.COM 16 April 2026 Oleh Sugianto, Langit sore di pinggir Sungai Kuantan tak lagi tenang. Raungan dompeng memecah sunyi, asap solar menari di udara, dan lubang-lubang menganga jadi saksi, di sinilah warga Kuansing bertaruh nyawa demi sesuap nasi.
Mereka bukan penjahat. Mereka bapak-bapak yang anaknya minta uang sekolah dan keperluan rumah tangga. Mereka pemuda yang lamarannya ditolak karena tak punya kerja. Mereka ibu-ibu yang jual emas gram-graman hasil mendulang, agar dapur tetap ngebul besok pagi.
PETI bukan pilihan gagah. PETI adalah pilihan terakhir. Saat sawah tak lagi cukup, karet harganya jatuh, dan lowongan kerja cuma jadi tempelan di mading kantor yang sudah berdebu. Dompeng jadi pelampung di tengah arus himpitan ekonomi yang deras.
Aparat Penegak Hukum datang menertibkan. Itu tugas mereka. Negara memberi seragam dan perintah: jaga aturan, jaga hutan, jaga sungai. Saat mereka menutup lubang, mereka sedang menjalankan sumpah. Tidak ada dendam pribadi di sana.
Wartawan datang membawa kamera dan pena. Itu kerja mereka. Mengabarkan apa yang terjadi, agar publik tahu, agar negara tak buta. Saat berita naik, bukan karena benci. Mereka hanya menyalakan lampu di ruangan yang gelap.
Lalu siapa yang salah? Tidak ada yang mau jadi penjahat dalam cerita ini. Warga hanya ingin perut anaknya kenyang. APH hanya ingin hutan tetap hijau. Wartawan hanya ingin kebenaran sampai ke telinga pemangku kebijakan.
Yang luka adalah sungai yang keruh, ikan yang hilang, dan masa depan anak cucu yang digadai air raksa. Yang hilang adalah payung hukum bernama WPR yang tak kunjung datang. Payung yang bisa membuat warga menambang dengan kepala tegak, bukan dengan sembunyi-sembunyi.
“Basatu Nagori Maju” belum mati. Ia hanya menunggu. Menunggu negara hadir bukan dengan borgol saja, tapi dengan solusi. Menunggu APH bisa merangkul sebelum menindak. Menunggu wartawan bisa mengabarkan harapan, bukan cuma kerusakan.
Karena di balik setiap lubang dompeng, ada cerita tentang cinta: cinta seorang bapak pada keluarganya. Dan cinta itu, kalau diarahkan dengan benar, bisa membangun negeri, bukan menghancurkannya.
Catatan Jurnalis:
1. Framing: Semua pihak dimanusiakan. Warga = korban keadaan. APH = penjalal tugas. Wartawan = penyampai fakta.
2. Emosi: Main di kata “perut kosong”, “anak minta uang sekolah”, “cinta seorang bapak” biar nusuk ke hati.
3. Solusi: Tutup dengan dorongan Kontribusi Terjangkau, Donatur Penjamin, Kebijakan Adil, WPR dan IPR “Basatu Nagori Maju” sebagai ajakan bersama, bukan vonis.***
- Penulis: Sugianto









Saat ini belum ada komentar