Andi Marliah, Penyair asal Makassar yang Membawa Karya Sastra Indonesia ke Panggung Internasional
- account_circle Sukesih
- calendar_month Ming, 25 Okt 2026

MAKASSAR,SAIBERNEWS.COM — Dunia sastra tidak hanya dibangun oleh mereka yang lantang menyuarakan kata-kata, tetapi juga oleh pribadi-pribadi yang tekun merangkai makna melalui karya. Andi Marliah, penyair asal Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu sosok yang terus menapaki perjalanan tersebut dengan semangat dan dedikasi.
Perempuan yang akrab disapa Bu Andi ini mengawali perjalanan profesionalnya sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Muhammadiyah 3 Makassar. Di tengah kesibukannya mendidik generasi muda, ia terus memelihara kecintaannya terhadap dunia tulis-menulis, khususnya puisi, pantun, gurindam, syair, karmina, dan esai.
Perjalanan Andi Marliah dalam dunia sastra semakin berkembang setelah bergabung dengan Perkumpulan Rumah Seni Asnur (PERUAS) Indonesia. Melalui komunitas tersebut, ia memperoleh ruang untuk memperluas pergaulan sastra, memperkenalkan karya, serta mengikuti berbagai kegiatan kebudayaan yang mempertemukan penyair dari berbagai daerah dan negara.
Dari Makassar Menuju Panggung Sastra Internasional
Langkah Andi Marliah di dunia sastra tidak berhenti di lingkungan lokal. Karya-karyanya telah menjadi bagian dari berbagai kegiatan sastra lintas negara. Ia pernah tampil di Hankuk University, Korea Selatan, dalam kegiatan yang melibatkan mahasiswa jurusan sastra. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanannya memperkenalkan karya sastra Indonesia kepada khalayak internasional.
Dalam perkembangan berikutnya, Andi Marliah juga tampil dalam kegiatan sastra di Osaka, Jepang. Kehadirannya di berbagai forum tersebut memperlihatkan bahwa karya sastra dapat menjadi jembatan pertemuan budaya, sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan bahasa dan ekspresi kreatif Indonesia kepada masyarakat dunia.
Bagi seorang penyair, kesempatan membacakan karya di hadapan audiens lintas budaya bukan sekadar pengalaman tampil di atas panggung. Lebih dari itu, ada kebanggaan ketika kata-kata yang lahir dari pengalaman, perenungan, dan kehidupan sehari-hari dapat menjangkau pendengar dengan latar belakang yang berbeda.
Produktif Berkarya di Tengah Kesibukan Mengajar
Di balik aktivitasnya sebagai pendidik dan penyair, Andi Marliah juga terus mengembangkan karya tulis. Sejumlah bukunya telah diterbitkan, baik berupa buku tunggal maupun karya yang berkaitan dengan puisi dan bentuk sastra lainnya.
Buku tunggal pertamanya, Menulis Senja di Kertas Bergaris, terbit pada 2021. Setahun kemudian, ia menerbitkan Takrif Aksara SA pada 2022. Ia juga memiliki buku pantun berjudul Serampai Makna Kata.
Selain buku-buku tersebut, Andi Marliah telah menghasilkan sejumlah karya esai dan puisi yang mengangkat beragam tema. Di antaranya Di Bawah Payung PERUAS, Merayakan Kelas Tanpa Batas, Tanpa Guru Laksana Sungai yang Kering, Jika Aku Menjadi Walikota Makassar, dan Kami Tetesan Keringat Ki Hajar Dewantara.
Kiprahnya dalam dunia antologi puisi juga terus berkembang. Salah satu karya yang tercatat dalam perjalanan kepenulisannya ialah Puisi Wisata Korea: Bertemu Seoul, 2025.
Deretan karya tersebut memperlihatkan kesungguhannya dalam menjadikan menulis sebagai bagian penting dari perjalanan hidup. Bagi Andi Marliah, kesibukan mengajar tidak menjadi penghalang untuk terus berkarya. Sebaliknya, dunia pendidikan dan sastra menjadi dua ruang yang saling melengkapi dalam membangun kepekaan, memperluas wawasan, dan menyampaikan gagasan.
Semangat yang Mengalahkan Jarak
Salah satu hal yang menonjol dari perjalanan Andi Marliah adalah kegigihannya dalam mengikuti kegiatan sastra. Perjalanan dari Makassar ke Jakarta bukanlah perkara sederhana, baik dari segi jarak, waktu, maupun biaya. Namun, tantangan tersebut tidak serta-merta memadamkan semangatnya untuk terlibat dalam kegiatan sastra bersama komunitas.
Ada kalanya ia harus menempuh perjalanan udara dengan biaya yang tidak sedikit demi menghadiri kegiatan yang dianggap penting bagi perkembangan dirinya sebagai penyair. Pengorbanan tersebut menjadi bagian dari proses panjang untuk memperluas pengalaman, membangun jejaring, dan memperkenalkan karya.
Di balik pembawaannya yang cenderung tenang dan tidak banyak bicara, tersimpan tekad yang kuat. Ia tidak selalu harus tampil menonjol untuk menunjukkan keseriusannya. Baginya, konsistensi dalam berkarya dan keberanian mengambil kesempatan merupakan bagian penting dari perjalanan seorang penulis.
Semangat itulah yang membuat keterbatasan jarak dan tantangan perjalanan tidak selalu menjadi penghalang. Apa yang semula terasa sulit dapat dijalani selangkah demi selangkah ketika disertai kemauan, kerja keras, dan kecintaan terhadap bidang yang digeluti.
Sastra sebagai Jalan Pengabdian
Perjalanan Andi Marliah memberikan gambaran bahwa seorang guru dapat menjalankan peran lebih luas daripada sekadar menyampaikan pelajaran di ruang kelas. Melalui sastra, ia turut menyuarakan gagasan, merawat bahasa, dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.
Keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan sastra internasional juga menunjukkan pentingnya komunitas dalam membuka peluang bagi para penulis untuk berkembang. Bergabung dengan PERUAS Indonesia menjadi salah satu bagian dari perjalanan yang mempertemukannya dengan ruang-ruang kreatif baru.
Andi Marliah mungkin bukan sosok yang selalu mencari perhatian. Namun, melalui ketekunan mengajar, produktivitas menulis, dan keberaniannya melangkah dari Makassar menuju berbagai forum sastra, ia membuktikan bahwa perjalanan besar dapat dimulai dari kesungguhan menjalani hal-hal yang dicintai.
Dari ruang kelas di Makassar hingga forum sastra di Korea Selatan dan Jepang, perjalanan Andi Marliah menjadi pengingat bahwa karya tidak mengenal batas wilayah. Selama ada kemauan untuk terus belajar, menulis, dan melangkah, kesempatan untuk memperkenalkan sastra Indonesia kepada dunia akan selalu terbuka.***
- Penulis: Sukesih









Saat ini belum ada komentar